Sudah lama saya tidak bepergian menggunakan kereta api, ehm
lebih tepatnya sudah lama saya tidak bepergian. Beberapa hari yang lalu saya
memutuskan untuk menggunakan jasa kereta api untuk pergi ke Surabaya.
Ternyata ada regulasi baru untuk penumpang kereta api
Pada waktu itu, saya tidak melihat penumpang lain yang
membawa bawaan berlebihan. Biasanya, banyak penumpang yang kurang ajar dalam
membawa barang bawaan, seperti berkarung-karung atau berkardus-kardus entah apa
itu di dalamnya.
Karena gambarnya itu
bentuk koper kotak begitu dengan dimensi sedemikian rupa, mungkin di kemudian
hari nanti tas carrier segede
kulkas akan saya bawa seperti biasanya...
saya baru saja ingat saat ini tidak punya lagi tas carrier.
Sudah lama arloji saya rusak.
Kerusakannya bukan pada mesinnya, namun karet gelangnya putus. Beruntung saat
beli dulu sudah termasuk karet galeng cadangan. daripada terbengkalai mending diperbaiki,
pikir saya. Berhubung keterbatasan alat dan skill,
saya memutuskan untuk menyerahkan pada ahlinya. Saya berencana memperbaiki di
Probolinggo, karena saya tau orang yang ahli. Meskipun sempat tertunda-tunda
agenda memperbaiki arloji ini, akhirnya kemarin (25/01) saya benar-benar
menyempatkan diri.
Sekarang orangnya sudah memasuki
usia senja, namun keahliannya masih tetap bugar. Pengetahuannya tentang jam dan
tetek bengeknya jangan diragukan, ia akan berbicara lebih dari apa yang kita
kira. Ketika memberikan jam dengan kerusakan mesin, maka ia menganalisis jam
tersebut. tipe apa, menggunakan baterai jenis apa, kalau pun di-servis
kemampuannya bertahan berapa lama, dan lain lain. Seperti dokter lah, menurut
saya.
| dokter arloji Probolinggo |
Siapa sih yang tidak tahu perhelatan musik jazz yang
diadakan di gunung itu? Apalagi di era sosmed sedang menjadi kebutuhan primer,
semua orang pasti tahu tentang event itu..entah
dari explore instagram atau
tanda-pagar yang bertebaran.
Jazz gunung tahun ini diadakan hari Jumat-Sabtu pada minggu
kedua bulan Juni. Dengan venue yang
tetap dengan sebelumnya, yang membuat event
ini terkesan begitu-begitu saja. Dekorasi panggung dan pemain musik yang
berubah setiap tahunnya tidak sepenuhnya menghilangkan rasa bosan pada benak
saya pribadi. Kehadiran duo pembawa acara yang bahan bercandaannya sedikit di
luar batas akal sehat itu menjadi obat dari rasa bosan.
| mc kondang |
Kali pertama saya hadir di jazz gunung pada dua tahun silam,
saat Sierra menjadi salah satu bintang tamunya.. Kala itu saya menjadi salah satu bagian relawan untuk membantu pihak panitia penyelenggara. Bermodalkan tanda pengenal organizer saya bebas
keluar masuk venue, jika tidak seperti itu saya tidak akan pernah datang
perhelatan musik jazz di gunung itu, memang karena saya tidak begitu tahu
menahu alunan jazz. Oops! Setidaknya saya berusaha jujur saja pada diri saya
sendiri, mungkin kehadiran saya disitu hanyalah pencari suasana dinginnya
gunung serta iringan musik live bukan
seorang pemenuh kebutuhan aktualisasi pengetahuan musik jazz *ribet amat ya*.
Saya tidak begitu tahu-menahu tentang aliran musik yang notabene musik golongan
borjuis serta berintelektual itu. Namanya juga musik golongan borjuis, bukan
hal yang istimewa apabila tiket masuknya begitu mahal (bagi saya, hehe). Bukan
soal gunungnya kali ya tiketnya mahal, menurut saya memang acaranya sebanding
dengan harganya...ono rego ono rupo1
lah kata orang Jawa.
![]() |
| karya seni yang menghiasi belakang panggung |
FYI, di tahun 2015 ini ada saja yang membuat saya hadir di
jazz gunung. Bukan lagi menjadi relawan panitia namun kali ini saya sepenuhnya
menjadi penonton yang ‘beli tiket’. Saat itu posisi saya sedang menikmati
suasana Probolinggo alias lagi gabut2 (re: nothing to do) di rumah, saya sedang mengobrol (tentunya dengan
media aplikasi chatting online)
dengan salah satu teman saya, ia bertanya kapan saya hengkang dari Probolinggo,
dan dari obrolan itu saya mendapat rejeki nomplok. Ia menawari saya sebuah
tiket eeh...dua tiket Jazz gunung dengan harga fantastis murahnya. Ceritanya
teman saya yang menjual tiketnya dengan harga fantastis murah itu bukan seorang
calo tapi tiketnya pada hari kedua batal untuk difungsikan, jadi ia berpikir
daripada terbuang percuma maka dijual tiket itu dengan harga murah. Alhasil
saya langsung menghubungi rekan-rekan lain yang tertarik untuk mengambil
kesempatan emas ini. Dapatlah saya seorang kawan, namanya Yus. Ia senang
kegirangan saat mengetahui kabar ini. Kebetulan juga Yus pernah hadir bersama
saya saat perhelatan jazz gunung dua tahun silam, ia juga termasuk segolongan
dengan saya yang memanfaatkan tanda pengenal panitia untuk keluar masuk venue. Seperti inilah cerita bagaimana
saya melihat-menonton-merasakan jazz gunung 2015.
| trio penikmat tiket murah |
Saya bukanlah golongan borjuis apalagi kaum intelektual,
namun bukan sebuah halangan untuk tetap eksis diantara golongan-golongan itu. Saya
termasuk golongan orang-orang beruntung untuk menikmati suasana gunung serta
persembahan musik.
Sampai ketemu lagi di Jazz Gunung 2016 (tentunya kalau saya
dapat tiket murah lagi atau mungkin mendapat undangan khusus, hehe)
Catatan kaki :
1 ono
rego ono rupo : peribahasa jawa yang jika dialih-bahasakan menjadi bahasa
Indonesia adalah ‘ada harga ada wujud’, memiliki arti bahwa harga seuatu
menunjukkan kualitasnya
2 gabut
: merupaka akronim dari ‘gaji buta’ yang memiliki arti tidak sedang melakukan
aktivitas apapun, istilah ini sering digunakan dalam percakapan-percakapan
ringan atau bisa disebut bahasa slang.
"Semakin besar berharap pada sesuatu, semakin ekspektasi berfantasi
akan hal itu. Itu semua akan berdampak pada tingkat kekecewaan..."
Cieileh! Awalan dibuka dengan pernyataan yang membuat risau.
Kalimat itu berasal dari pengalaman pribadi sih. Saat mulai berharap akan
sesuatu tentu ekspektasi tumbuh dengan liarnya, jika yang terjadi tidak sesuai
maka kecewa yang didapat. Namun kecewa atau tidaknya tergantung pemahaman akhir
pada pribadi masing-masing, bisa dibilang manajemen hati. Kejadian-kejadian yang pernah saya
alami bisa menjadi dasar kalimat awalan tadi, dari perihal perasaan sampai
dunia realitas.
Korelasi harapan-ekspektasi saya rasakan saat bepergian hari
sabtu kemarin, menyebrang ke pulau Gili Ketapang Probolinggo. Pulau Gili
Ketapang adalah pulau yang secara administratif masuk dalam wilayah kabupaten
Probolinggo, hampir seluruhnya penduduk di pulau ini adalah suku bangsa Madura.
Sudah sembilan belas tahun saya menjadi
warga daerah Probolinggo namun baru kali ini saya naik kapal di lautannya untuk
menuju pulau Gili Ketapang. Gila, sembilan belas tahun! batin saya berkata 'Kemana saja ya selama
ini'.
Sabtu kemarin, saya sedang pulang ke Probolinggo untuk mendukung
adik saya dalam perhelatan lomba peragaan busana kebaya modern yang diadakan
oleh salah satu dealer mobil ternama. Di situlah kisah perjalanan kali ini bermula saat saya bertemu kawan dan adik
kelas saya waktu SMA, David & Tara.
Ngobrol sana-sini tentang kondisi kekinian Probolinggo,
terbersit pikiran dari mereka untuk traveling
kecil-kecilan*. Pulau Gili Ketapang, menjadi destinasi kami. Seperti
layaknya perjalanan dadakan lainnya, kami kebingungan alat dokumentasi. Harap
maklum pejalan gembel macam saya, sampai sekarang belum punya kamera pribadi.
Untuk personil perjalanan, hanya ada tambahan satu dari kawan lainnya yang
kebetulan sedang berada di Probolinggo, namanya Gegana.
Dengan jargon “Daltok!”*, kami berangkat. Pukul satu siang,
saat Probolinggo sedang panas-panasnya kami sudah berada di atas kapal. Saya merasa begitu bahagia (re: excited). Merasakan semilir angin laut, melihat
warga lokal, dan badan bergoyang berirama mengikuti ombak laut, Itu semua
membuat saya tersenyum dalam diam.
Sempat beberapa kali saya melihat potret pulau Gili Ketapang
dari akun sosmed kawan-kawan saya yang pernah mengunjungi pulau tersebut.
Bagus, menurut saya. Namun David yang telah tujuh kali berkunjung ke pulau itu,
bercerita tentang keadaan pulau tersebut. Baik-buruknya ia ceritakan semua.
Saat masih dalam penyebrangan, saya hanya berharap perjalanan kali ini tidak
membuat saya kecewa. Untuk itu saya mengatur kadar harapan saya, agar ekspektasi
saya tumbuh dengan teratur.
| di atas kapal (itu orang sebelah saya arwahnya mencoba untuk keluar dari jasadnya, hehe. goyang adalahefek foto di atas kapal.) |
Sekitar tiga puluh menit kemudian. Kami tiba di dermaga
pulau Gili Ketapang.
Memang betul apa yang diceritakan oleh David. Tentang
keadaan pulau beserta masyarakatnya. Saya tidak menggambarkannya lewat huruf yang terangkai pada kisah perjalanan kali ini, karena baik-buruknya sesuatu itu tergantung dari sudut
pandang masing-masing. Dan penilaian terbaik adalah dengan melihat objek-subjeknya secara
langsung.
| sesampainya di sekitaran dermaga pulau Gili Ketapang |
Saya merasa tidak enak hati untuk menggambarkannya objek-subjek yang saya lihat pada
kisah perjalanan saya kali ini. Bukan karena saya bermaksud menyembunyikan
potensi atau keburukan pulau tersebut. Hanya saja, saya memiliki makna tersendiri
akan apa yang saya lihat pada saat itu. Karena saya memiliki mata yang berbeda
dan ada hal-hal lain yang membuat hati saya bungkam. Satu hal, saya tidak pernah merasa kecewa dengan perjalanan 'daltok' kali ini.
| diujung pulau Gili Ketapang |
| saya-David-Gegana |
| saya-Tara-Gegana. eh kok jadi mirip foto band hardcore gini ya, hehe |
Selamat melanjutkan perjuangan untuk hidup, kawan !
catatan kaki:
- foto diambil oleh Gegana (ig: @geganawimaldy)
*traveling kecil-kecilan adalah kegiatan liburan yang tidak memakan biaya banyak karena jaraknya nggak teramat jauh dari rumah.
*traveling kecil-kecilan adalah kegiatan liburan yang tidak memakan biaya banyak karena jaraknya nggak teramat jauh dari rumah.
diantara abu-abu debu. dititipkannya rasa pada sebuah bunga. dinikmatinya lewat warna. dijaminkannya pada tangkai-tangkai keabadian. karena ia percaya mekar-mekar itu tak mengenal kadaluarsa.
(foto 'warna-warni keabadian' diambil di kaki Gunung Bromo, Jawa Timur, Indonesia)
Januarinya sudah jauh, Februarinya entah kemana, Maretnya juga telah tiada, Aprilnya hanya kebohongan, Meinya penuh harapan, Juninya semuanya hilang, Julinya nafsu terkekang, Agustusnya bicara kemenangan, Septembernya mengumpulkan kiambang dan Oktobernya telah tunggang langgang. lalu November datang menantang, kepada hati yang telah babang. siapa pula peduli sang pemenang, Desember akan tiba di barisan paling belakang. Akhir cerita, kudanya masuk kandang.
(foto 'perjalanan di atas kuda' diambil di lautan pasir gunung Bromo, Jawa Timur, Indonesia)
sendiri tidak pasti sunyi, sendiri bukan berarti sepi, namun sunyi dan sepi ialah sejati. meski waktu tak berhenti, raga diam menunggu mahadewi. hanyalah ingin menikmati, suasana hati.
(foto 'Sendiri' diambil oleh bondet, di pelataran pagelaran jazz gunung, Java Banana Hotel, Jawa Timur, Indonesia)
Mungkin, aku telah jatuh cinta pada kita yang selalu melangkah dalam kebersamaan. Pada pasir yang mengenang jejak. Pada angin yang membuat suara-suara. Pada kabut yang menghalangi paras. Aku jatuh cinta pada setiap perjalanan langkah kita.
(foto 'Perjalanan Langkah' diambil di Lautan Pasir, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, Indonesia) 12 Agustus 2014
We are who we choose to be. Do the best, God take the rest.
(foto 'Across Sea of Sand' diambil di Lautan Pasir, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, Indonesia)
12 Agustus 2014
Perhelatan Semipro tahun ini
kurang begitu terasa pada diri saya, mungkin karena saya tidak benar-benar
menjadi warga Probolinggo yang selalu mengetahui update event lokal.
Ohiya, Semipro merupakan nama acara yang berasal dari sebuah
singkatan ‘Seminggu di Probolinggo’. Jadi ,seminggu penuh di Kota
Probolinggo bakal ada acara-acara yang bakal menghibur turis asing maupun
lokal. Acara-acaranya apa saja? Ya macam-macam lah, dari pagelaran tari sampai
pawai di jalanan dan salah satu pagelaran music jazz ditemani stand up comedy
di museum kota Probolinggo (terletak di jalan Suroyo).
Semipro sendiri sudah diadakan
sejak 5 tahun yang lalu. Menurut pengalaman saya, jazz museum dan stand up
comedy baru ada pada semipro tahun 2012,
yang pada saat itu Comic Akbar menjadi guest starnya. Lalu di tahun berikutnya
acara tersebut tidak ada dan baru ada
lagi di tahun ini.
Dekorasi yang lumayan
simple juga membuat penonton nyaman, ornament kain diatas instrument-instrument
music. Namun bila hujan turun, saya menjamin pagelaran akan kacau balau. Untung saja semalam tidak turun hujan. Untuk stand up
comedy-nya berbeda dengan tahun 2012, ada beberapa orang Probolinggo yang mengangkat mic untuk berstandup
comedy. Anggapan saya mereka open mic, eh ternyata orang-orang yang berstand up
comedy yang tadi malam saya lihat merupakan hasil dari sebuah kompetisi yang
diadakan sebelumnya, dan dari penampilan semalam di depan penonton itu juga diambil
juaranya. Benar-benar saya ketinggalan berita kalau ada kompetisi tersebut, hehe.
![]() |
| Tretan Muslim nge-mic |
Untuk guest star stand up comedy
pastilah beda dari dua tahun yang lalu. guset star tahun ialah Tretan Muslim.
Namun meski orangnya berbeda, masih tetap diambil dari comic yang berasal dari
sekitaran Jawa Timur yang sudah memiliki prestis di bidang Stand Up Comedy. Ini guna
menyelaraskan selera komedi dari comic dan penonton, karena tidak semua orang
tahu apa itu stand up comedy apalagi jika bertanya tentang selera komedi dan
bertanya siapa yang berkomedi dengan mic itu, bila comicnya tidak mengerti budaya masyarakat lokal bakal hening tanpa tawa. Tertan Muslim yang bersuku Madura
benar-benar cocok dengan atmosfir komedi di Kota Probolinggo,materi yang
diangkatnya juga banyak yang masuk, dari tidak adanya Mall di Probolinggo hingga sebuah resto makanan
cepat saji (KF*) yang menawarkan menu sate usus. Dan juga perilaku kampungan
masyrakat diangkat menjadi bahan komedi yang mengglitik seperti broadcast BBM,
sepeda motor dengan knalpot bising, dan perilaku-perilaku lainnya. Tak lupa Tretan Muslim juga menyinggung masalah korupsi yang dihubungkan dengan rasa
malu mempunyai uang receh. Namun ada beberapa bit sudah pernah saya dengarkan sebelumnya, seperti jembatan Suramadu. Meski begitu Tretan Muslim berhasil membawa suasana tawa lepas dari penonton.
![]() |
| jazz museum |
Untuk penampilan jazznya, not bad
lah. Meski tak semewah yang di gunung, jazznya tetap menghibur. Pemain drumnya
permainannya keren namun vocalnya nggak begitu bersuara jazzy. Soundsystem yang
dipake juga keren, hehe. (maklum pengalaman pentas seni di sekolah, jadi tahu
sedikit-sedikit tentang soundsystem)
Antusias yang sangat besar
menimbulkan sebuah harapan agar acara seperti ini tetap ada dalam agenda
semipro di tahun-tahun berikutnya. Selamat menikmati semipro yang tinggal sehari lagi.
Dung dung, minggu 9 Maret 2014
Minggu sore, waktu yang tepat untuk berleha-leha...tidur-tiduran sambil nonton televisi (mumpung di rumah). sedang santai to the max malah terdengar teriakan suara ‘ES DUNG DUNG...!!!’ (sengaja pake tanda seru, teriakannya lumayan keras). Es dung-dung (cara baca orang jawa: es tung-tung) sontak saya kaget, langsung beranjak dari posisi tidur.
(*******)
Eh? Beneran ada es dung-dung, saya mencoba keluar rumah untuk memastikan... ‘dung....dung...dung...’ terdengar dengan khasnya, suara dari salah satu bagian gamelan (alat musik jawa). Perkiraan hanya gurauan dari adek, ternyata suaranya memang nyata.
| pak dung-dung |
Beberapa menit kemudian, sampailah pak dung-dung di depan rumah. Sambil naningi es dung-dung,kita ngobrol-ngobrol. Dia curhat tentang rumahnya terkena abu vulkanik dari gunung kelud beberapa waktu lalu. Saya curhat tentang? Bukan, saya tidak curhat. Suer!
Saya melontarkan pujian ‘esnya enak’ kemudian dia membalas ‘gula asli lho mas’. Rasanya manis, apalagi yang berperan sebagai cupnya itu roti. Slruuup...nggak kalah lah sama es krim monasnya A&W, hehe. Selamat menikmati hari minggu. (posting telat^^v)



