Bunuh Saya dengan Perlahan
8:24:00 AM
Dulu saat duduk di bangku SMA,
frasa “killing me slowly” keluar pada
waktu sedang menghadapi soal-soal logaritma matematika. Dan sekarang frasa itu
keluar bukan karena soal-soal matematika yang harus diselesaikan.
Pada awal Agustus 2016,
tiba-tiba saja ada rekan saya yang menghubungi meminta kesedian saya untuk bergabung
di regunya pada ajang Indonesia Maritime Challenge (IMC). Gelaran yang diadakan
Insititut Teknologi Sepuluh November (ITS) berupa pertandingan seputaran
olahraga laut (its sounds like Sailing, rowing, etc). Tahun ini gelaran
tersebut diadakan selama 2 minggu di Pulau Bawean, Jawa Timur.
Dasar orang oportunis, ya saya
iyakan saja ajakan itu dengan senang hati riang gembira. Dalam imaji saya,
Bawean merupakan pulau eksotis dengan pantai pasir putih beserta daun pohon
kelapa menyiur melambai.
2 minggu tinggal di pulau Bawean
untuk pertandingan, adalah pilihan yang buruk. Mengapa? Awalnya saya tidak
mengira bahwa rekan satu regu saya ada beberapa yang tidak memiliki latar
belakang pecinta alam, dan yang berlatar pecinta alam pun tidak segarang
stereotip yang ada. Saya pun tidak begitu bagus dalam bidang pertandingan ini,
tapi setidaknya saya tidak bingung mencari koneksi internet hanya sekadar untuk
memperbarui sosmed dan berkata pada dunia “Hello world Im in Bawean now”.
2 minggu hidup di Bawean rasanya
seperti ingin secepatnya tidur 13 kali dan akhirnya berkata “hore besok
pulang”, mungkin terlebih karena partner kali
ya.
Tentang Indonesia Maritim Challenge,
itu gelaran yang tidak buruk-buruk amat. Saya juga bisa merasakan lelahnya jadi
panitia 2 minggu seperti itu. Dengan makanan yang staterpack, wujud lauk ganti tapi kebanyakan bumbu masakan sama
saja. Dengan kondisi pulau yang tidak ada indomaretnya. Dengan kondisi peserta
yang banyak maunya, seperti saya hehehe. 2 minggu adalah waktu yang sangat
panjang, sepertinya. Pertandingan yang diadakan diantaranya rowing, man over board, navigasi, ropework, dan race sailing. Untuk bertahan hidup selama 2 minggu, saat itu saya
mencoba menikmati semua rangkaian acara yang ada.
Untungnya saya dipertemukan
dengan orang-orang yang bisa diajak gila. Dony, Bams (nama asilnya Bambang), dan bang
Peppy. Untuk melewati 2 minggu itu selain mengikuti rangkaian acara yang ada,
kami selalu rutin bermain kartu dengan permainan seven. Bermain seven sembari menertawakan hal-hal random menjadi oase.
3 foto di atas diambil oleh bang Peppy (dia selaku tim dokumentasi IMC) |
Jikalau ada yang menanyakan hasil pertandingan yang diperoleh regu kami, saya berani menjawab bahwa kami mendapat ranking 10 besar. Hebat ? tentu saja tidak, karena jumlah yang berpartisipasi sepuluh regu, hehehe. Saya merasa menjadi underdog saat itu, hanya bisa memeriahkan pertandingan. Saya juga tidak melihat harapan untuk menang, karena memang regu kami jauh dari hal itu dilihat dari skill dan pengalamannya. Untungnya saya memenangkan lomba fotografi, jadi ada sedikit kehormatan yang di dapat (untuk saya pribadi, hehe).
lumayan dapat juara dua |
Hari demi hari terlewati, dan akhirnya 2 minggu itu usai... Benar-benar usai.
Akhirnya saya belajar, kalau ada
tawaran hidup gratis selama 2 minggu, akan lebih baik kalau dipertimbangkan
rekan-rekan hidup di dalamnya.
(nb: kalau ingin mengetahui IMC lebih lanjut cek saja instagramnya @indonesiamaritimechallenge)
0 komentar
Pembaca yang baik pasti meninggalkan komentar yang baik dan membangun. Tinggalkan komentar, ya! :)