Deserve to be Hated

11:08:00 PM

Malam ini cenderung cerah, tapi ternyata akhirnya hujan turun juga. Air hujan tampak jelas terkena  sinar lampu merkuri. Suara-suara lantunan ayat suci berlomba untuk melemparkan saya pada suatu suasana dan tempat, melewati sekat ruang dan waktu yang membatasi dunia fisik. Tapi, saya berusaha untuk tetap disini, menghadapi kenyataan bahwa nyamuk masih gemar menusukkan jarumnya di kulit saya. Plok! Sesekali saya menemplok mereka, seakan-akan mewakili kekesalan.

Malam ini, saya berteduh di salah satu halte. Di jalanan kota, tempat semua orang berlomba menuju utara, saya tidak akan pernah menemukannya lagi. Tidak ada kemungkinan, ia dibawa orang lain. Kepastian, dia pergi bersama lainnya. Menuju utara, atau barat yang hakiki.

Anjing!! Sialan...... tiba-tiba ada anjing liar berbulu rombeng lari tepat di depan saya. Tentu hanya di dalam hati saya mengumpat. Sungkan kalau sampai anjingnya dengar, dan membalikkan badan. Masih hujan, jadi tidak perlu mengejarnya atau bahkan menendangnya dengan kebencian.
Mengganggu saja.

Hujan sedikit reda, saya pergi dari halte yang kesepian itu. Saya bawa kendaraan dengan ugal, mengumpat pada ibu-ibu yang belok kanan tapi lampu sein kiri. Mengumpat pada pengendara lain yang memaksakan kehendaknya untuk mencuri masuk di celah mobil-mobil. Sekalian saja saya tendang kendaraannya.

Pantas, saya dibenci. 

You Might Also Like

0 komentar

Pembaca yang baik pasti meninggalkan komentar yang baik dan membangun. Tinggalkan komentar, ya! :)