Millenials Playground

2:53:00 AM

Seminggu yang lalu (16 April 2017), saya mengikuti sebuah kompetisi fotografi yang diselenggarakan PERBANAS Surabaya. Kompetisi fotografinya berbeda dengan kompetisi yang pernah saya ikuti sebelumnya, di kompetisi kali ini saya diharuskan untuk hunting foto secara real time. Lokasinya dan durasinya pun telah ditentukan oleh penyelenggara.

Nama kompetisinya sih “Rally Photo”, sehari sebelum kompetisi saya sempat mencari informasi lewat internet apa itu Rally Photo. Dan menurut berbagai sumber yang saya baca kompetisi Rally Photo itu peserta diberi semacam petunjuk untuk memotret apa. Dan ternyata sampai kompetisi berakhir rally photo jauh dari bacaan yang saya baca H-1 itu, haha. Tidak ada keharusan memotret bedasarkan clue, peserta bebas memotret apa saja asalkan sesuai tema “Human Interest and Society”.
Wisata religi Sunan Ampel dan Jembatan Merah Plaza, menjadi dua titik lokasi pilihan penyelenggara. Meeting Point peserta ada di kampus penyelanggara. Pemberangkatan dibagi menjadi 2 regu besar yang terdiri dari 4 mobil elf. Regu A lokasi pertama JMP, Regu B lokasi pertama di Sunan Ampel. Saya termasuk di Regu B. 

Sebelum berangkat, saya dan 60 peserta lainnya mendapat wejangan singkat fotografi oleh Arbain Rambey (Fotografer Jurnalis Senior Kompas) dan sedikit tambahan oleh Yuyung Abdi (Fotografer Jurnalis Senior Jawa Pos). Dua orang kaliber di dunia fotografi itu pun menjadi juri kompetisi.
Dengan dimodali waktu sekitaran 45 menit, peserta menyebar. Saya agak kaku saat memotret di Sunan Ampel, kekurangan referensi angle sepertinya. Di lokasi kedua, sebelumnya saya sudah punya kerangka imajinasi momen yang saya akan potret. Namun sayangnya sampai durasi menipis momen yang ada dalam benak saya tidak terjadi.

Sekembalinya ke meeting point (kampus Perbanas) peserta diharuskan untuk mengumpulkan dua foto dari dua lokasi. Saya pun sempat meminta pendapat dari beberapa teman foto mana yang mereka suka. Dan saya mengumpulkan foto yang saya suka, hehe.

Sebelum berangkat kompetisi saya juga sempat membaca secara acak di internet “how to win photography competition”, dari judulnya saja seperti bacaan desperate, haha. Memang, kok. Isinya juga receh, saran penulis terakhir bahwa peserta kompetisi fotogarfi itu baiknya nothing to loose setelah mengumpulkan karya jangan berharap untuk menang. Baiklah saya ikuti saja saran artikel random itu. Saya rela saja untuk kalah.

Sembari menunggu hasil penjurian kami disuguhkan dua pembawa acara yang sama sekali tidak jelas, “setidaknya mereka berusaha” kata peserta yang duduk di sebelah saya.

Menurut saya, teknis acara sedikit kurang rapi. Saya rasa penyelanggara tidak melakukan koordinasi internal. Tampak dari penurunan peserta saat tiba di lokasi pemotretan, waktu yang telah ditentukan juga tidak dijaga dengan ketat, dan saat waktu telah habis pun rasanya panitia tidak bingung untuk mencari atau setidaknya menelpon peserta untuk segera kembali. Tapi untungnya semua lancar dan tidak ada yang tersesat atau diculik, hehe. Di sisi lain saya kagum dengan mereka, telah berhasil mendatangkan dua orang kaliber di dunia fotografi sebagai pembicara sekaligus juri di kompetisi mereka. Hal hebat, karena memang saya belum pernah melakukannya. (kok jadi evaluasi panitia gini, hehe)



Dan datanglah saat pengumuman pemenang. Foto-foto yang berhasil masuk 10 besar ditampilakn melalui proyektor. 5 besar dikomentari oleh juri. Ternyata jepretan saya adalah salah satunya. Alangkah bahagianya, saat Yuyung Abdi mengomentari foto milik saya. Katanya, “foto saya kurang kuat di konten tapi grafisnya begitu kuat, ekspresi wajah dan pemotongan garis-garis di foto menghasilkan kekuatan”. Saya sendiri merasa foto milik saya magis, “Millenials Playground” judulnya. Foto saya dinobatkan sebagai juara II. 


Arbain Rambey (kiri); Yuyung Abdi (kanan)

You Might Also Like

0 komentar

Pembaca yang baik pasti meninggalkan komentar yang baik dan membangun. Tinggalkan komentar, ya! :)