Pulang dari Praha

12:06:00 PM

Saat saya sedang gila-gilanya dilanda virus film luar negeri, karena setiap hari Senin saya bisa nonton film hanya dengan harga 15.000 di gedung bioskop yang menayangkan film luar negeri. Saya merasa butuh tontonan film produksi negeri saya sendiri. Terakhir kali saya film Indonesia yang saya tonton ‘Filosofi Kopi’, bagus menurut saya. Tetek bengek perfilman saya tidak akan berkomentar, hehe.

Beberapa waktu lalu saya pergi ke bioskop, dengan niatan menonton ‘Surat dari Praha’. Dari trailer yang saya tonton cukup menarik. Ceritanya tentang eksil-tapol-komunis-orba-bersih lingkungan, membuat saya semakin tertarik. Karena sebelumnya saya sempat membaca buku ‘Pulang’ karya Leila S. Chudori, sebuah buku tentang drama keluarga yang sebelas dua belas dengan ‘Surat dari Praha’.  Mungkin kalau menonton film itu tanpa membaca novel Pulang kurang syahdu suasananya. Jujur saja, istilah-istilah seperti tapol-eksil-komunis-orba-bersih lingkungan yang saling berkorelasi itu saya dapat benang merahnya di novel Pulang. Seperti orang-orang yang berada dalam satu studio dengan saya waktu itu sepertinya tidak benar-benar menikmati filmnya, ‘mereka tidak tau istilah tapol-eksil’ bisik saya pada teman nonton saya waktu itu. Eh? Atau bisa saja, istilah-istilah itu didapat dari  membaca buku-buku sejarah lainnya. Karena memang novel Pulang bukan satu-satunya referensi tentang korelasi istilah-istilah itu.

Berbicara tentang penokohan, beda jauh. Tapi tetap masalahnya adalah cinta yang tidak dapat bersatu karena salah satu dari dua orang saling mencintai terpisah karena seseorang tersebut tidak bisa pulang ke Tanah Air. Bedanya ya novel Pulang lebih pelik, kompleks, dan haru.

Hal yang sama dari dua karya itu adalah Surat. Surat, sebagai media penghubung dua orang yang saling mencintai yang terhalang oleh rezim dan segala tetek bengeknya. Novel Pulang dan Film Surat dari Praha sama menyorot peran surat. 

Saya merasa Surat dari Praha adalah representatif novel Pulang, dengan ubahan yang ada. Namun film itu tetap mempunyai identitasnya sendiri. Lagu-lagunya yang apik membuat saya berbicara seperti ini.  

Akhir kata, dua karya itu tetaplah berbeda. Dan saya pun berhenti menghubung-hubungkan ini dan itu dalam kedua karya tersebut, hehe.




You Might Also Like

0 komentar

Pembaca yang baik pasti meninggalkan komentar yang baik dan membangun. Tinggalkan komentar, ya! :)