Transpoter to Bali

9:19:00 PM

Tepat seminggu yang lalu, jam segini (23:52), saya sedang menjadi zombie di balik dashboard mobil dalam perjalanan menembus jalanan gelap karya nenek moyang kita-jalanan Banyuwangi Probolinggo, saya sedang mengendalikan mobil untuk pulang ke Probolinggo.

Di mulai dari hari jumat, perjalanan darat nun jauh ini di mulai. Bermula dari profesi saya sebagai seorang sopir, saya sampai di pulau Bali. Akhir september, merupakan hari-hari yang baik untuk saya....awalnya, saya berpikir seperti itu. Saya menyetujui sebuah tawaran pekerjaan untuk menjadi sopir keluarga saya yang sedang mempunyai agenda di pulau Bali untuk Sabtu-Minggu (26-27 Sept 2015). Saya dibayar secara profesional untuk hal ini.

Jam terbang yang sedikit tidak menjadi perkara buat saya. Dengan keberanian, saya ambil kesempatan itu. Saya juga memanfaatkan bagian kursi belakang yang available, untuk saya tawarkan ke Innez, kebetulan saja ia sedang berada di Jember. Jadi meeting point kami di penyebrangan Ketapang.

Tujuannya adalah Denpasar, bukan yang lain. Saya berpikir akan ada waktu luang untuk mencuri waktu pergi ke uluwatu, untuk menonton pertunjukan tari kecak. Namun sampailah pada waktunya, sabtu sore, waktu dimana saya harus segera berangkat jika memang serius ingin menjadi penonton tari kecak, saya masih disibukkan dengan ini-itu. Tak apa, saya tidak mengambil pusing, karena memang tuntutan profesi.

Saya mencoba opsi lain yang tersedia.. ketika tidak sengaja menengok papan penunjuk jalan, saya melihat “Museum Bali” (tulisan pastinya saya juga lupa, hehe, museum Bali atau museum art Bali). Saya memutuskan untuk pergi kesana. Dengan bermodalkan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar), saya mendapatkan informasi letak museum tersebut, kira-kira 20 menit berjalan kaki dari tempat saya berdiri saat itu.

Saat itu jam masih menunjukkan pukul 3 sore (WITA), saya masih menimbang-nimbang, memikirkan apakah nanti ketika saya tinggalkan akaknkah peran saya dibutuhkan secara mendadak.. lalu, saya mencoba konfirmasi kepada klien saya (bilang aja, keluarga sendiri), ternyata itu adalah waktu santai namun sekitaran pukul 6 tenaga saya dibutuhkan.

‘baiklah, fix, saya berangkat ke museum Bali’ ucap saya dalam hati... beberapa belokan yang saya pilih, saya merasa salah pilih jalan, saya bertemu bli-bli/bro-bro/mas-mas badan gede bertato gitu, saya merasa insecure saat itu. Jurus yang saya keluarkan adalah tampang dengan senyum manis, tidak mempan!! Saya mempercepat langkah.

Dan akhirnya saya sampai di museum Bali. For your information, saya gagal belajar sejarah Bali dari museum tersebut. Ehm, karena jam berkunjung telah habis.... catatan penting : sebelum berkunjung ke tempat wisata (contoh : museum), ketahuilah jam operasionalnya.


*tarik nafas perlahan, tahan, hembuskan perlahan*   Saat itu saya tetap mencoba berpikir positif.

Di depan museum, ada sebuah lapangan bernama Puputan Badung. Disana ada sebuah pelataran khusus disediakan untuk pertunjukkan publik. Pada saat itu sedang berlangsung pertunjukan tari tradisonal Bali yang dibawakan oleh anak-anak dari sanggar tari se-Denpasar. Mungkin itu cara alam
semesta menghibur saya..









Saya menikmati pertunjukkannya...


Untuk hari minggunya, terkait dengan profesi, berjalan dengan lancar.

Eits, bisa di bilang saya tidak ke tempat-tempat wisata sama sekali. Saya tidak mampir untuk membeli buah tangan khas Bali. Saya tidak ke GWK, tidak ke pantai, dan hal lain sebagainya tentang Bali. 

Apakah saya bisa tetap dikatakan pergi ke Bali? Sepertinya, tidak. Lebih enak jika dibilang, saya pergi ke Denpasar.  Lagi-lagi soal terminologi ya?! 

You Might Also Like

0 komentar

Pembaca yang baik pasti meninggalkan komentar yang baik dan membangun. Tinggalkan komentar, ya! :)