Air terjun Umbulan, Sesaat sebelum Adzan Magrib Berkemundang

7:00:00 PM


Ngabuburit. Ketika saya mengeceknya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ternyata kosa kata ngabuburit tidak ada. Bisa dikatakan itu bahasa slang. Ngabuburit, merupakan kegiatan yang dilakukan sembari menunggu adzan magrib pada saat puasa.

Bulan puasa sudah hampir habis bersamaan dengan musim liburan kuliahan (buat yang kuliah), saya sedang berleha-leha di Probolinggo (my hometown). Saat itu, sehari setelah buka puasa bersama  teman SMA seangkatan, saya dan beberapa teman dekat merencanakan sebuah traveling kecil-kecilan. Pasukan bepergian kali ini ialah Ega, Fahmi, Fauzi, Sri Lanang (tamu jauh dari madiun), Andre, Ali, dan Innezdhe.

Siang yang panas pada bulan puasa yang sudah hampir habis....rencana traveling kecil-kecilan  tidak sekadar wacana saja. Berhubung hari raya Idul Fitri kurang tiga hari lagi, kami memutuskan tidak bepergian jauh dari rumah. Itu sebuah pembelaan karena keuangan memang sedang menipis, hehe. Pilihan destinasi jatuh pada air terjun Umbulan, terletak di desa Sukapura.

Pukul dua siang, kami berangkat menuju desa Sukapura dengan sepeda motor. Sekitar pukul 3 sore kami tiba di lokasi parkir kendaraan.  Dari pasukan bepergian termasuk saya, belum pernah ada yang ke air terjun umbulan. Tentunya bukan masalah besar selama bisa berinteraksi dengan penduduk sekitar, spot air terjun akan mudah ditemukan.

Eh? Memang air terjun Umbulan ini mudah ditemukan kok. Kalau berangkat dari Terminal Probolinggo, ikuti saja jalan aspal arah ke Bromo, berhenti di desa Sukapura (kantor Telkom Sukapura), lalu di sebelah kantor tersebut ada jalan setapak, ikuti saja jalannya. Jika tidak menemukan air terjunnya? saatnya bingung, hehe.

Jalan kaki sekitar 376 langkah (percayalah, saya tidak benar-benar menghitungnya), melewati jalan turun-naik-turun-naik, beberapa tangga, dan bebatuan, tibalah kami di air terjun umbulan. Sayangnya hari itu, merupakan musim kering. Kami tidak menemukan air yang terjun dari ketinggian. Kami menemukan sungai yang mengalir mengikuti topogafi tanah yang menurun,  seketika itu juga terdengar bunyi air yang cukup deras membuat saya segar.

Ritual pertama yang kami lakukan, mengabadikan foto diri kami sendiri, lalu mengambil gambar semua pasukan bepergian kali ini. hm, pada saat pengambilan gambar ada salah satu pasukan yang agak nyleneh, Fauzi tampak sedang memanjat tebing sekitaran air terjun. Teman saya yang satu itu memang selalu ada-ada saja.
selfie ala kekinian
Melihat air segar, tidak mampu membuat saya menahan diri untuk tidak berenang. Begitu juga teman-teman yang lain. Sore itu, kami habiskan waktu dengan berenang.
tempat saya berenang itu kedalaman sekitar 3 meter,lho!
Berenang saat puasa sangatlah segar apalagi berenang di air terjun, segarnya bukan main-main.. Eits! tapi ingat resiko ditanggung sendiri, karena memang saat berenang mudah saja air masuk lewat lubang-lubang yang ada pada tubuh kita. Soal itu, kembali ke masing-masing saja.

Ketika hendak pulang, saya mengalami sedikit masalah. Tiba-tiba saja perut saya mulas tidak tertolong, saya hanya bisa diam jika hal seperti ini terjadi. Saya rasakan saat hendak meninggalkan air terjun, awalnya saya berniat untuk buang air di sungai sekitaran air terjun, dilala ada sepasang kekasih yang baru saja datang. Pikir saya, masalah ini akan teratasi segera ketika sampai di area parkir. Saat berjalan kaki kembali ke area parkir sepeda motor, teman-teman bergurau seenaknya dan saya seperti bukan saya lagi, hanya diam dan sibuk menahan rasa sakit. Akhirnya saya mencari alternatif, untuk cari tempat buang air secepatnya. Saya mengambil arah yang berbeda dari jalan setapak, saya berbelok menuju dataran yang lebih atas untuk mencari semak-semak, ternyata disitu ada orang yang sedang berkebun. Sial sekali bukan?! Akhirnya saya menemukan sungai yang sedang mati, sedikit genangan, saya mencoba untuk melepaskan hasrat yang tertahan...Tidak Berhasil. Saya berlari-lari kecil, sesegera mungkin kembali ke area parkir untuk mencari toilet. Saya tidak menghiraukan teman-teman yang sedang duduk santai menunggu saya. Urusan perut memang tidak bisa kompromi. Entahlah apa penyebabnya, dugaan sementara karena menu buka puasa di hari sebelumnya. Saya tidak berpikir lebih jauh untuk hal itu, yang terpenting adalah kami semua selamat sampai rumah masing-masing sebelum adzan magrib berkumandang.

Air terjun umbulan merupakan salah satu dari sekian banyak spot air terjun yang ada di Probolinggo. Rasanya tempat kelahiran saya ini tidak pernah kehabisan tempat bermain meskipun tidak memiliki taman bermain sebanyak kota metropolitan.


You Might Also Like

0 komentar

Pembaca yang baik pasti meninggalkan komentar yang baik dan membangun. Tinggalkan komentar, ya! :)